Tampilkan postingan dengan label audit internal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label audit internal. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Maret 2017

Audit Internal - Bahan UTS


MATERI NOMOR 1 TEORI

Fraud adalah tindakan curang, yang dilakukan sedemikian rupa, sehingga menguntungkan diri sendiri/klpk merugikan pihak lain (perorangan, perusahaan atau institusi).

Ada tiga hal yang mendorong terjadinya sebuah upaya fraud, yaitu dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan fraud (pressure), peluang yang memungkinkan fraud terjadi (opportunity), dan elemen penting dalam terjadinya fraud, dimana pelaku mencari pembenaran atas tindakannya (rationalization).

Jenis fraud berdasarkan pelaku dikelompokan menjadi:

1.   Employee fraud (kecurangan pegawai), adalah kecurangan yang dilakukan oleh pegawai dalam suatu organisasi kerja.

2.   Management fraud (kecurangan manajemen), adalah kecurangan yang dilakukan oleh pihak manajemen dengan menggunakan laporan atau transaksi keuangan sebagai sarana fraud, biasanya mencurangi pemegang kepentingan organisasinya.


MATERI NOMOR 2 TEORI

Berikut adalah tujuh sumber kekuasaan dari auditor :

1.   Posisi: Sumber kekuasaan berasal dari posisi internal auditor sesuai dengan  statusnya  dalam organisasi sehingga memiliki wewenang untuk melaporkan temuan dan opini.

2.   Keahlian: berasal dari pengetahuan, keahlian, latarbelakang, pendidikan yang dimiliki auditor.

3.   Karismatik: berasal dari rasa percaya diri, profesionalisme dan menunjukkan keinginan untuk membantu para auditor.

4.   Pengaruh: kekuasaan ini berasal dari kemampuan auditor untuk memberikan bantuan dan pelaksanaan tindakan perbaikan.

5.   Ancaman: berasal dari kemampuan untuk mengancam, memerintah, memaksakan perilaku dimana kekuasaan jenis ini dianjurkan untuk dijauhi karena secara tidak langsung menumbuhkan rasa dendam dan merusak hubungan baik auditor/klien.

6.   Pemberian tekanan: auditor intern memilki kekuasaan untuk memberikan sanksi dan menjatuhkan hukuman sebagai akibat dari karakteristik inheren, status organisasi. Tetapi hendaknya kekuasaan ini dilaksanakan dengan pertimbangan yang seksama.

7.   Kekuatan langsung: merupakan kekuatan terakhir dan tertinggi, biasanya dimiliki oleh orang yang memiliki posisi lebih tinggi dari yang lainnya. Auditor internal berada dalam posisi staf sehingga jarang memiliki kekuasaan ini.

Menyelesaikan konflik

Konflik auditor-klien sudah umum terjadi. Konfik dapat diselesaikan melalui arbitrasi, mediasi atau kompromi. Tiga pertanyaan yang harus dijawab dari suatu konflik adalah :

1.   Apakah konfilk tersebut nyata? Jangan-jangan konflik ini hanya merupakan kesalahpamahan atau komunikasi yang buruk

2.   Apa yang menjadi konflik, sehingga tidak dikaitkan dengan masalah-masalah sekunder

3.   Apa penyebab dari konflik? Sumber permasalahan sebaiknya diidentifikasi secepat mungkin.


MATERI NOMOR 3 TEORI

Koordinasi auditor eksternal/internal oleh SAS 65 diperluas dalam bentuk aktivitas :

    Pertemuan rutin antara auditor internal dan eksternal
    Pengembangan suatu skedul audit yang terkoordinasi
    Akses oleh auditor eksternal terhadap kertas kerja dan laporan auditor internal.
    Diskusi tentang masalah-masalah akuntansi yang potensial

Jika terjadi konflik antara auditor internal dan eksternal maka langkah yang dilakukan adalah:

1.  Menghindari konflik

Auditor semacam ini cenderung menekan reaksi emosional dengan mencari cara lain yang lebih enak atau bahkan mungkin dia minta pindah atau keluar dari pekerjaan sebagai internal auditor. Hal ini dimungkinkan pula bila si Auditor kurang punya kemampuan untuk bernegosiasi secara efektif. Meskipun strategi menghindari bisa mengatasi persoalan, namun sifatnya sementara saja. Karena pada kesempatan lain persoalan itu dapat timbul dan si auditor tetap tidak dapat mengatasinya.

2.  Membekukan konflik

ini adalah suatu taktik untuk menangguhkan tindakan. Strategi ini bisa digunakan untuk mendinginkan situasi untuk sementara, sehingga usaha untuk konfrontasi bisa dihindarkan.

3.  Konfrontasi konflik

Artinya atas problem atau temuan ini langsung dikonfrontasikan dengan auditee. Konfrontasi bisa dilakukan dengan dengan dua jalan : Dengan memakai kekerasan, misalnya dipaksa dengan power dari Diektur Utama maka auditee harus melaksanakan rekomendasi audit. Strategi ini dapat efektif, tapi auditee dapat merasa kalah. Bila merasa kalah maka bisa timbul kebencian, kekhawatiran, bahkan menjurus pada kerugian. Dengan memakai strategi negosiasi, Strategi ini kedua pihak bisa menang. Masing-masing langkah akan mengundang masalahnya sendiri. Strategi “Win-Win” harus dipakai sebagai dasar dalam kerangka pemecahan. Setiap kegiatan dan keputusan yang diambil, dilakukan berdasar motif yang konstruktif sifatnya. Teknik-teknik seperti kemampuan memahami orang lain, komunikasi dan juga negosiasi perlu dimiliki.


Share:

Audit Internal - Pekerjaan Lapangan II



Hai semua..

Disini saya akan berbagi mengenai beberapa pertanyaan dalam quiz mata kuliah audit internal yang pernah saya kerjakan. Semoga membantu ^^

1.    Jelaskan penerapan teknik – teknik audit internal?
a.   Audit Fungsional
Audit fungsional (functional audit) adalah audit yang mengikuti proses dari awal hingga akhir, melintasi lini organisasi. Audit fungsional cendrung lebih terkonsentrasi pada operasi dan proses dibandingkan pada administrasi dan orang-orang yang ada dalam organisasi. Audit ini bertujuan untuk menentukan seberapa baik fungsi-fungsi dalam organisasi akan saling berinteraksi dan berkerja sama.

b.   Audit Organisasional (dan Evaluasi Produktivitas)
Audit organisasional (organizational audit) tidak hanya memerhatikan aktivitas yang dilakukan dalam organisasi tetapi juga dengan control adminitrastif yang digunakan untuk memeatikan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut dilaksanakan. Oleh karena itu auditor tertarik pada seberapa baik manajer organisasi memenuhi tujuan organsisasi dengan sumber daya yang ada. Pendekatan organisasional yang tajam sering kali bisa memberikan pandangan yang luas atas operasi, melebihi yang diperoleh hanya dari pengujian transaksi.

c.   Studi dan Konsultasi Manajemen
Audit fungsional dan organisasional membentuk kerangka kerja program audit jangka panjang. Setiap jenis audit, yang umumnya diulang pada jangka waktu tertentu, mencerminkan “santapan” yang harus dimakan oleh auditor. Aspek lain dari audit bisa jadi bagaikan kaviar dan sampanye : audit harus diarahkan menuju penyelesaian masalah bagi manajemen (biasanya bukan menyelesaikan masalah manajemen).

d.   Audit atas Program
Atas kemauan mereka sendiri atau atas permintaan manajemen eksekutif, auditor internal bisa melakukan penelaahan khusus atas program yang sedang berjalan. “Program” merupakan istilah umum yang mencakup setiap upaya yang didanai yang seiring dengan aktivitas normal organisasi sedang berlangsung-program ekspansi, program baru untuk manfaat karyawan, kontrak baru, program kesehatan pemerintah atau program pelatihan, aplikasi computer yang baru, atau program yang berhubungan erat dengan tujuan organisasi.

e.   Audit Kontrak
Kontrak konstruksi atau operasi sering kah melibatkan uang dalam jumlah besar; kontrak kontruksi biasanya bukan merupakan bagian dari bisnis rutin organisasi kontrak operasl bisa membrikan jasa atau operasi terprogram. Manajemen mungkin tidak begitu memahami biaya konstruksi dan operasi seperti produksi yang dilakukan sendiri. Oleh karena itu auditor internal bisa sangat membantu mengaudit kontrak seperti ini.

2.    Jelaskan pengertian bukti audit dan mengapa bukti audit begitu penting bagi auditor dan berikan beberapa contoh bukti audit ?
Bukti audit adalah semua media informasi yang digunakan oleh auditor untuk mendukung argumentasi, pendapat atau simpulan dan rekomendasinya dalam meyakinkan tingkat kesesuaian antara kondisi dengan kriterianya. Tidak semua informasi bermanfaat bagi audit, karena itu informasi harus dipilih. Pedoman pemilihan informasi yang akan digunakan sebagai bukti audit adalah bahwa informasi tersebut harus andal sehingga mampu meyakinkan pihak lain.
Bukti audit penting bagi auditor karena itu akan mempengaruhi hasil keputusan audit dan laporan audit.
Contoh bukti audit: catatan akuntansi yang berupa cek, giro, faktur, jurnal entry.

3.    Jelaskan perbedaan bukti audit dengan bukti hukum ?
Sifat bukti audit bermacam-macam jenis bukti audit yang diperoleh dari auditor, pihak ketiga, dan auditan, sedangkan sifat bukti hukum bukti langsung dan kesaksian dari saksi dan pihak-pihak yang terlibat.

4.    Auditor pada saat melakukan pemeriksaan didukung oleh bukti audit, Jelaskan standar – standar bukti audit ?
Semua bukti audit harus memenuhi uji kecukupan, kompetensi, dan relevansi :
a.    Kecukupan : Bukti dianggap memadai jika bersifat factual, memadai dan meyakinkan sehingga bisa menuntun orang yang memiliki sifat hati-hati untuk mengambil kesimpulan yang sama dengan auditor.
b.    Kompetensi : Bukti yang kompeten adalah bukti yang andal. Bukti tersebut haruslah yang terbaik yang dapat diperoleh. Dokumen asli lebih kompeten dibandingkan salinanya. Pernyataan lisan yang menguatkan adalah lebih kompeten dibandingkan pernyataan biasa. Bukti langsung lebih andal dibandingkan bukti kabar angin.
c.     Relevansi : Relevansi mengacu pada hubungan informasi dengan penggunaannya. Fakta dan opini yang digunakan untuk membuktikan atau menyangkal suatu masalah harus memiliki hubungan logis dan masuk akal dengan masalah tersebut.

5.    Bukti audit bersifat "rahasia", jelaskan arti dan maknanya ?
Kerahasiaan hubungan dengan klien diperlihatkan dalam aturan 301 dari Kode Perilaku Profesional, yang menyatakan:
seorang anggota tidak boleh mengungkapkan suatu informasi rahasia yang diperoleh dalam rangkaian perjanjian profesional kecuali dengan persetujuan klien”.
Bila auditor membuka rahasia informasi keda pihak luar atau karyawan klien yang tidak memiliki akses, hubungan mereka dengan manajemen akan sangat terganggu sehingga memberikan karyawan sebuah kesempatan untuk mengubah informasi dan merupakan sebuah kasus jika seorang akuntan publik menjual prakteknya ke perusahaan akuntan publik lainnya. Namun tidak dibutuhkan izin dari klien bila dokumentasi audit dipanggil oleh pengadilan atau digunakan untuk keperluan legal lainnya.

Share:

Minggu, 12 Maret 2017

Audit Internal - Pelaporan



1.  Penerima laporan audit, dari mulai manajemen klien sampai manajemen puncak dan komite audit serta komisaris sering kali tidak membaca atau menghargai laporan audit, Mengapa beri penjelasan ?
Salah satu alasan mengapa beberapa penerima laporan audit, dari mulai manajemen klien sampai manajemen puncak dan komite audit serta dewan komisaris sering kali tidak membaca atau menghargai laporan audit adalah karena mereka melihat sedikitnya kegunaan yang terkandung didalamnya. Oleh karena itu, diperlukan cara untuk memasarkan laporan audit agar memotivasi para penerima laporan agar menginginkan laporan tersebut. Menurut Sawyer (2006:257), cara efektif untuk memasarkan laporan audit adalah sebagai berikut:
Ø  Menjelaskan proses audit sebagai suatu tambahan yang partisipatif bagi manajemen.
Ø  Menguraikan profesionalisme dari staf audit.
Ø  Mengidentifikasikan anatomi dari sebuah temuan audit secara sederhana.
Ø  Menguraikan keuntung-keuntungan yang dihasilkan dari penggunaan laporan untuk setiap tingkatan manajemen.
Ø  Menjelaskan bagaimana manajemen dapat memperoleh bantuan dari staf audit dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan manajemennya secara objektif.

2.  Sasaran laporan audit adalah mempengaruhi atau meransang dilakukannya tindakan oleh manajemen. Pelaporan factual dari situasi yang memerlukan perubahan adalah tidak cukup, bahwa sikap apatis para pembaca akan menghasilkan kepasifan atau tidak adanya tindakan yang dilakukan sama sekali, Jelaskan klasifikasi laporan atas saran-saran yang diberikan oleh auditor?
Klasifikasi laporan atas saran-saran yang diberikan menjadi empat bagian, yaitu:
1. Rekomendasi-rekomendasi Berorientasi pada Tindakan Efektif.
a. Rekomendasi-rekomendasi yang berorientasi pada tindakan:
Ø Diarahkan dengan tepat;
Ø Langsung pada sasaran;
Ø Spesifik;
Ø Meyakinkan;
Ø Signifikan;
Ø Dengan nada dan isi yang positif.

b. Rekomendasi yang efektif, harus
Ø Mengatasi penyebab mendasar;
Ø Dapat dilaksanakan;
Ø Menggunakan biaya yang efektif;
Ø Mempertimbangkan alternatif-alternatif lain;
Ø Menjadi kepentingan dari badan-badan penyelenggara.

2. Komitmen pada Hasil.
a. Komitmen dalam membuat terlaksananya perbaikan.
b. Komitmen staf:
Ø Percaya akan rekomendasi mereka;
Ø Menyokong tindakan;
Ø Memahami klien (atau lingkungan klien);
Ø Bekerja sama dan siap membantu;
Ø Percaya akan kebutuhan adanya perubahan.
c. Komitmen organisasi:
Ø Sistem manajemen pekerjaan;
Ø Alokasi sumber daya dan keputusan penempatan staf;
Ø Program-program pelatihan;
Ø Sistem penghargaan prestasi.

3. Pengawasan dan Sistem Penindaklanjutan
a.   Menjamin terlaksananya perbaikan dan peningkatan: pengawasan dan penindaklanjutan yang agresif.
b.   Unsur-unsur dasar sistem pengawasan dan penindaklanjutan:
Ø Dasar pasti pengawasan dan penindaklanjutan;
Ø Pengawasan status secara aktif.
c.   Menentukan kemajuan.
d.   Mengambil langkah-langkah tambahan untuk dapat mengimplementasikan rekomendasi:
Ø Menentukan kecukupan tindakan yang dilakukan atas rekomendasi;
Ø Melaporkan pencapaian-pencapaian;
Ø Mengenali tanggung jawab dasar dari klien.

4. Perhatikan Khusus untuk Rekomendasi-rekomendasi Utama.
a. Mengidentifikasi rekomendasi-rekomendasi utama.
b. Penekanan sejak dini dan terus-menerus.
c. Contoh cara-cara untuk menyorot rekomendasi-rekomendasi utama:
Ø Dampak dari kebijakan;
Ø Dampak dari prosedur;
Ø Dampak dari hukum dan perundang-undangan;
Ø Perhatian dari pejabat utama organisasi.

3.  Jelaskan faktor-faktor keterlambatan dalam penyampaian laporan audit dan berikan contohnya ?
a.   Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan dapat dinilai dari beberapa segi. Besar kecilnya ukuran perusahaan dapat didasarkan pada total nilai aktiva, total penjualan, kapitalisasi pasar, jumlah tenaga kerja dan sebagainya. Semakin besar nilai item-item tersebut maka semakin besar pula ukuran perusahaan itu. Semakin besar aktiva maka semakin banyak modal yang ditanam, semakin banyak penjualan maka semakin banyak perputaran uang dan semakin besar kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ia dikenal dalam masyarakat.
b.  Reputasi Kantor Akuntan Publik (KAP)
Menurut Loeb (1971) kantor akuntan besar disebutkan memiliki akuntan yang berprilaku lebih etikal daripada akuntan di kantor akuntan kecil. Dengan demikian, kantor akuntan besar lebih memiliki reputasi baik dalam opini publik. Sedangkan DeAngelo (1981) menyimpulkan bahwa KAP yang lebih besar dapat diartikan kualitas audit yang dihasilkan pun lebih baik dibandingkan kantor akuntan kecil. Maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang memakai jasa KAP besar cenderung tepat waktu dalam menyampaikan laporan keuangannya.
c.   Opini Akuntan Publik
Akuntan publik adalah salah satu pihak yang memegang peranan penting untuk tercapainya laporan keuangan yang berkualitas di pasar modal. Akuntan publik bertugas memberikan assurance terhadap kewajaran laporan keuangan yang disusun dan diterbitkan oleh manajemen. Assurance terhadap laporan keuangan tersebut, diberikan akuntan publik melalui opini akuntan publik.
d.  Pengaruh Tingkat Profitabilitas
Untuk menilai tingkat profitabiltas perusahaan dilihat dari laba bersih sebelum pajak. Perusahaan yang mengumunkan rugi atau tingkat profitabilitas yang rendah, maka akan membawa reaksi negatif terhadap pasar dan turunnya penilaian atas kinerja perusahaannya. Sedangkan perusahaan yang mampu menghasilkan profit akan cenderung mengalami audit delay yang lebih pendek, sehingga good news tersebut dapat segera disampaikan kepada para investor dan pihak yang berkepentingan.
e. Laba / Rugi Operasi
Kerugian cenderung mengalami audit delay yang lebih panjang. Ketika kerugian terjadi perusahaan ingin menunda bad news sehingga perusahaan akan meminta auditor untuk menjadwal ulang penugasan audit, dan auditor akan berhati-hati selama proses audit jika percaya bahwa kerugian ini mungkin disebabkan karena kegagalan keuangan perusahaan dan kecurangan informasi tentang laba perusahaan yang dapat digunakan sebagai indicator efisiensi penggunaan dana tertanam, sebagai pengukur presentasi manajemen, sebagai dasar penentuan besarnya penggunaan pajak dan sebagai alat pengendalian alokasi sumber daya ekonomi suatu negara.

4.  Jelaskan bagaimana prosedur pelaporan?
Standards for the Professional Practive of Internal Auditing Auditing memberikan panduan mengenai tanggung jawab auditor internal atas pelaporan hasil audit. Standar tersebut disajikan dibawah ini.
 Laporan Interim. Disarankan untuk menggunakan laporan interim ketika dibutuhkan adanya informasi awal, tetapi ia hendaknya tidak menjadi pengganti dari laporan  finalnya. Temuan-temuan yang dibahas didalam sebuah laporan interim dan dapat dengan sukses diselesaikan sebelumnya laporan final diterbitkan, tidak perlu  untuk dimasukkan di dalam laporan final. Pengecualian dapat diberikan apabila temuan tersebut cukup material dan penting bagi operasi klien.
Adanya Laporan Interim akan dapat memperkecil waktu penulisan laporan. Penguraian yang sedang berjalan atas temuan serta adanya penelaahan supervisi dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk membuat laporan setelah pekerjaan lapangan selesai.
Ringkasan Laporan. Salah satu sasaran yang penting dari audit internal adalah untuk membuat manajemen senior tertarik pada audit dan membaca laporannya. Laporan audit dapat memberikan informasi yang objektif mengenai organisasi yang biasanya tidak tersedia di tempat lain. Satu kesulitan dalam mencapai sasaran ini adalah jumlah waktu yang harus digunakan seorang eksekutif yang sibuk untuk menelaah laporan-laporan panjang yang memberikan informasi yang dibutuhkan oleh manajer opersional untuk mengambil tindakan perbaikan. Di dalam proyek audit besar, sebuah laporan audit dapat, dan lebih baik jika, diperluas dan diperinci.
Manajemen senior hendaknya mengetahui  temuan-temuan signifikan yang diberikan oleh aktivitas audit secara berkala. Unit audit mana yang bekerja dengan baik dan mana yang membutuhkan perhatian dari manajemen tingkat atas. Masalah apa yang telah diungkapkan oleh auditor yang membutuhkan perhatian segera dan/atau terus-menerus.
Auditor internal hendaknya memberikan pertimbangan yang serius pada apa-apa yang dibutuhkan oleh manajemen senior dan yang ingin ia ketahui dari proyek-proyek audit yang telah selesai.
Namun, auditor internal sebaiknya mampu menempatkan dirinya di posisi seorang eksekutif yang sibuk dan menanyakan apa yang kira-kira mereka inginkan jika menghadapi situasi seperti itu. Di bawah ini adalah beberapa saran untuk membuat ringkasan laporan satu halaman:
·       Uraian singkat mengenai aktivitas yang diaudit.
·       Kesimpulan auditor.
·       Peringkasan temuan yang benar-benar signifikan, dengan referensi pada halaman dimana rincian permasalahannnya dapat ditemukan.
·       Uraian singkat atas tindakan yang telah diambil klien atas temuan-temuan tersebut.
·       Sebuah pernyataan keseluruhan yang menempatkan temuan dan kesimpulannya pada sebuah perspektif yang benar.
Diskusi dengan Klien. Auditor internal hendaknya berhati-hati untuk menghindari kemungkinan memberikan jawaban atas laporan audit yang bertentangan dengan fakta-fakta yang dilaporkan. Komentar-komentar tersebut, baik benar atau tidak, akan menimbulkan keragu-raguan pada kredibilitas audit. Karenanya , auditor sebaiknya menelaah seluruh temuan dengan pegawai dan manajemen klien selama pelaksanaan audit untuk menjamin tidak terjadinya pertentangan akan fakta-fakta yang dilaporkan, Ketika terjadi perbedaan interpretasi, pandangan yang diberikan klien hendaknya dimasukkan di dalam laporan.
Perspektif. Objektivitas juga meminta adanya perspektif sasaran, observasi, tidak melebih-lebihkan hal-hal yang tidak material atau relevan. Manajemen senior biasanya memberikan perhatian yang serius pada laporan audit, Kondisi-kondisi yang dilaporkan mengalami penyimpangan dapat menjadi subjek dari kemarahan eksekutif.
Akurasi, Objektivitas berarti akurat. Kata-kata yang tidak akurat akan membuat bingung pembacanya. Contoh Akan lebih akurat untuk mengatakan, “100 barang yang kami periksa, 30 buah diterima dengan terlambat tiga hingga lima hari dan 20 buah dengan enam hingga 15 hari terlambat” daripada dengan mengatakan “tidak seluruh barang diterima tepat pada waktunya”.
Kejelasan, kejelasan berhubungan dengan banyak, hal yang terutama adalah ia menggambarkan pemindahan dari apa yang ada di pikiran auditor ke dalam pikiran pembacanya.

5. Laporan bertujuan untuk melakukan komunikasi. Jika mereka tidak dapat mencapai tujuan komunikasi, maka laporan tersebut tidak akan memiliki nilai, jelaskan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam berkomunikasi agar tujuannya dapat tercapai?
Ringkasan Laporan. Salah satu sasaran yang penting dari audit internal adalah untuk membuat manajemen senior tertarik pada audit dan membaca laporannya. Laporan audit dapat memberikan informasi yang objektif mengenai organisasi yang biasanya tidak tersedia di tempat lain. Satu kesulitan dalam mencapai sasaran ini adalah jumlah waktu yang harus digunakan seorang eksekutif yang sibuk untuk menelaah laporan-laporan panjang yang memberikan informasi yang dibutuhkan oleh manajer opersional untuk mengambil tindakan perbaikan. Di dalam proyek audit besar, sebuah laporan audit dapat, dan lebih baik jika, diperluas dan diperinci.
Manajemen senior hendaknya mengetahui  temuan-temuan signifikan yang diberikan oleh aktivitas audit secara berkala. Unit audit mana yang bekerja dengan baik dan mana yang membutuhkan oerhatian dari manajemen tingkat atas. Masalah apa yang telah diungkapkan oleh auditor yang membutuhkan perhatian segera dan/atau terus-menerus.
Auditor internal hendaknya memberikan pertimbangan yang serius pada apa-apa yang dibutuhkan oleh manajemen senior dan yang ingin ia ketahui dari proyek-proyek audit yang telah selesai.
Namun, auditor internal sebaiknya mampu menempatkan dirinya di posisi seorang eksekutif yang sibuk dan menanyakan apa yang kira-kira mereka inginkan jika menghadapi situasi seperti itu. Di bawah ini adalah beberapa saran untuk membuat ringkasan laporan satu halaman:  
·       Uraian singkat mengenai aktivitas yang diaudit.
·       Kesimpulan auditor.
·       Peringkasan temuan yang benar-benar signifikan, dengan referensi pada halaman dimana rincian permasalahannnya dapat ditemukan.
·       Uraian singkat atas tindakan yang telah diambil klien atas temuan-temuan tersebut.
·       Sebuah pernyataan keseluruhan yang menempatkan temuan dan kesimpulannya pada sebuah perspektif yang benar.
Share: